Pendidikan Agama Islam dalam Era Globalisasi
Pertama-tama saya ucapakan terimakasih atas waktu dan tempat yang telah dipersilahkan. Puji syukur saya panjatkan kehadirat Alllah SWT yang telah mepertemukan kita di sini. Bapak dan ibu guru yang saya hormati, serta kawan-kawan yang saya cintai, dalam pidato singkat kali ini saya akan membahas tentang Peranan Pendidikan Agama Islam dan Muslimin dalam menghadapi Era Globalisasi.
Awal abad ke-2 ini ditandai dengan berbagai perubahan mencengangkan. Kenyataan tersebut telah menghadapkan masalah agama kepada suatu kessadaran kolektif. Sebagai agen perubahan sosial pendidikan Islam yang berada dalam atmosfir modernisasi dan globalisasi, dewasa ini dituntut untuk mampu memainkan peranannya secara dinamis dan pro-aktif. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan konstribusi baru yang berarti bag perbaikan umat Islam, baik pada tataran intelektual teoritis maupun praktis.
Pendidikan Islam bukan sekedar proses penanaman nilai mioral untuk membentengi diri dari akses negative globalisasi. Tetapi, yang paling penting adalah bagaimana nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan Islam mampu berperan sebagai pembebas dari himpitan kebodohan dan keterbelakangan.
Sebagaimana fenomena yang kita saksikan dan kita rasakan saat ini, tekologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas Negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan. Melalui audio (radio) dan melalui visual (televise, internet, dll). Fenomena modern yang tejadi diawal millennium ketiga ini popular dengan sebutan Globalisasi.
Perlu kita catat sejak munculnya televisi dibarengi dengan timbulnya berpuluh-puluh channel dangan menawarkan beragam acara yang menarik, umat Islam hanya berperan sebagia konsumen. Orang baratlah yang pada hakikatnya memegang kendali semua teknologi modern. Dari sini terdapat permasalahan yang harus dihadapi oleh penddikan Islam.
Sebagai akibatnya, Media ini khsusnya televisi dapat dijadika alat sangat ampuh ditangan sekelompok orang-orang atau golongan untuk menanamkan atau sebaliknya merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol pola pikir seseorang oleh mereka yang memunyai kekuasaan terhadap media tersebut. Persoalan yang sebenarnya terletak mereka yang menguasai komunikasi global tersebut yang memiliki perbedaan prespektif yang ekstrim dengan Islam dalam memberikan kriteria nilai-nilai moral. Antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dengan yang artifical.
Misalnya selama tahun 950-an, 60-an, dan 70-an New York Times, wajib bagi seluruh Mahasiswa baru, laki-laki dan perempuan di Hardvad, Yale dan Universitas Cut di Amerika, difoto telanjang untuk sebuah proyek besar yang didesain dalam rangka untuk menunjukan bahwa “tubuh seseorang” yang diukur di analisa, dapat bercerita banyak tentang intelegensia, watak nilai moral dan kemungkinan pencapaian di masa depan.
Dengan demikian melihat dari fenomena yang terjadi di Era Globalisasi yang menimbulkan banyaknya permasalahan karena adanya perbadaan perspektif ekstrim denga Islam dalam hal moral, maka dituntut bagaimana peranan Pendidikan Islam dan juga para Muslim dan juga Muslimah untuk mengatasi gejala-gejala permasalahan tersebut.
Maka, permasalahan pokok yang sangat perlu mendapat perhatian adalah penyusunan rancangan program pendidikan yang dijabarkan dengan kurikulum. Berpedoman pada lingkup pendidikan Islam yang ingin dicapai, maka kurikulum pendidikan Islam harus berorientasi pada :
1. Tercapainya tujuan hablum Minallah
2. Tercapainya tujuan hablum minannas
3. Tercapainya tujuan hablum minal’alam.
Sekian pidato singkat dari saya, kurang lebihnya mohon maaf.
0 komentar:
Poskan Komentar